Minahasa Tenggara – kibarindonesia.com – Masyarakat Ratatotok saat ini berada dalam kecemasan mendalam akibat maraknya pencurian karbon yang terjadi di area tambang. Sejumlah penambang emas yang sebelumnya telah bekerja keras mengais hasil bumi kini merasa kecewa dan marah atas pencurian yang semakin meluas. Mereka menuntut keadilan dan tindakan tegas dari aparat penegak hukum (APH) serta pemerintah daerah. Sabtu, tanggal 22/03/2025
“Komendan kami bekerja bertaruh nyawa untuk anak istri kami di rumah, tetapi hasil kerja kami selalu dicuri. Sehingga kerja kami terasa sia-sia. Mau makan apa anak istri kami? Jangan salahkan jika kami nekat!” ungkap salah seorang penambang yang enggan disebutkan namanya.
Aksi pencurian karbon ini kian meresahkan setelah insiden penembakan di lokasi tambang Ratatotok yang terjadi beberapa pekan lalu. Insiden yang mengakibatkan seorang warga Basaan meninggal dunia itu menambah ketakutan masyarakat setempat. Namun, meskipun situasi tegang pasca kejadian tersebut, sejumlah pihak tak bertanggung jawab memanfaatkan kelangkaan pengawasan dan memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pencurian karbon.

Berdasarkan laporan yang diterima oleh tim Kibar Indonesia serta informasi dari sejumlah warga yang meminta identitas mereka dirahasiakan, pencurian karbon terjadi di lokasi Limpoga Ratatotok. Menurut informasi, barang curian tersebut dibakar di wilayah Boltim dan berhasil diungkap serta diamankan oleh Polres Boltim. Meski demikian, proses penyelidikan kasus ini menuai tanda tanya besar dari masyarakat.
“Saat karbon yang dicuri dibakar, para pelaku langsung diamankan dan ditahan Polres Boltim. Namun, karbon yang telah di bakar dan menjadi emas, patut bertanya-tanya, ke mana perginya emas itu, dan siapa sebenarnya yang terlibat dalam pencurian ini? Apakah ada pihak tertentu yang ikut berperan dalam tindak pidana ini?” ujar seorang warga Ratatotok yang turut merasa resah.
Situasi ini semakin pelik ketika dugaan keterlibatan oknum aparat penegak hukum, yang disebut-sebut mengenakan pakaian hijau, mencuat ke permukaan. Hal ini membuat masyarakat semakin mempertanyakan keabsahan proses penyidikan dan transparansi dalam kasus ini.
Terkait hal ini, Kasat Reskrim Polres Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Iptu Liefan Kolinug SE, hingga berita ini diterbitkan, belum memberikan respon meskipun sudah dichat beberapa kali melalui aplikasi WhatsApp untuk mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut namun Ketidaktertiban dalam memberikan informasi terkait kasus pencurian ini memunculkan kecurigaan di kalangan masyarakat.
Masyarakat Ratatotok pun kini mendesak agar pihak pemerintah, khususnya Bupati dan Kapolres serta semua dinas terkait, segera turun tangan dan bekerja sama untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka yang menggantungkan hidupnya dari hasil tambang. Penindakan tegas terhadap para pelaku pencurian karbon sangat dinantikan demi menjaga keberlangsungan hidup dan kesejahteraan warga di kawasan tersebut.
“Harapan kami, ada tindakan nyata dari pemerintah dan APH agar ketertiban bisa segera pulih, dan kami tidak lagi hidup dalam ketakutan,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya.
Dengan adanya kasus ini, diharapkan akan ada evaluasi lebih lanjut terkait pengawasan di kawasan tambang, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum diminta untuk lebih transparan dalam menangani perkara ini dan memberikan kejelasan kepada masyarakat terkait perkembangan penyidikan.
( Redaksi )





