Talaud – kibarindonesia.com – Proyek Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Kepulauan Talaud, peningkatan jalan Salibabu–Balang yang dikerjakan oleh PT Marabunta Adi Perkasa dengan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2024 sebesar Rp4,8 miliar menuai sorotan tajam masyarakat. Pasalnya, jalan yang belum genap satu tahun dikerjakan itu kini sudah mengalami kerusakan serius.
Dilansir oleh berita media lintasutara.com yang menuliskan lapisan aspal terkelupas, berlubang, dan membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara roda dua. Kondisi ini memicu kekecewaan warga Desa Salibabu yang menilai kualitas pekerjaan jauh dari harapan. Sabtu 07/02/2026
“Ini sangat tidak layak. Baru beberapa bulan, aspal sudah terkelupas. Jalan jadi berbahaya,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Warga lain menambahkan, besarnya anggaran tidak sebanding dengan hasil pekerjaan.
“Rp4,8 miliar itu bukan uang kecil. Tapi hasilnya justru membahayakan masyarakat. Ini sangat mengecewakan,” tegasnya.
Sorotan keras juga datang dari penggiat anti-korupsi Talaud, Nofrian Maariwuth. Ia mendesak Aparat Penegak Hukum (APH), khususnya Kapolda Sulawesi Utara, untuk segera turun tangan menyelidiki proyek tersebut.
“Kami meminta Kapolda Sulut memeriksa pihak ketiga, PT Marabunta Adi Perkasa. Kenapa jalan yang baru dibangun sudah rusak? Jalan ini seharusnya memperlancar akses masyarakat, bukan malah membahayakan,” kata Maariwuth.
Menurutnya, kondisi ini sangat janggal jika dibandingkan dengan proyek jalan lain yang umumnya mampu bertahan hingga lima bahkan enam tahun.
“Ini baru hitungan bulan sudah rusak parah. Kami menduga kuat ada penyimpangan dalam pengerjaan proyek ini. Tolong segera diusut,” tegasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, PT Marabunta Adi Perkasa melalui Ko David menyampaikan klarifikasi. Melalaui via WhatsApp. Ia menyatakan bahwa proyek tersebut telah diperiksa oleh Tipikor Polda Sulawesi Utara pada tahun 2025 dan dikerjakan sesuai spesifikasi teknis.
Namun, pernyataan tersebut dinilai bertolak belakang dengan kondisi faktual di lapangan. Sebab foto yang beredar menunjukkan kerusakan jalan mulai nampak meski usia proyek belum satu tahun.
Masyarakat Talaud pun mendesak instansi terkait, baik pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum, untuk turun langsung ke lapangan dan melihat kondisi sebenarnya.
“Kami tidak mau hanya penjelasan di atas kertas. Silakan turun dan lihat sendiri. Jalan baru tapi sudah rusak,” ungkap seorang warga yang meminta namanya disamarkan dengan alasan keamanan
Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat Desa Salibabu berharap ada langkah konkret dan transparan dari pemerintah serta penegak hukum guna memastikan keselamatan pengguna jalan sekaligus akuntabilitas penggunaan anggaran negara.
(SS)





