Ratatotok Bagai Bom Waktu, Saweran Ratusan Juta dari Bos Tambang Ilegal Disorot Dunia

MITRA – kibarindonesia.com – Ratatotok, wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat tambang emas di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, perhatian publik tertuju pada aksi saweran bernilai fantastis yang dilakukan oleh sejumlah oknum bos tambang dalam sebuah acara hiburan yang menghadirkan penyanyi muda berbakat, Lona M. Senin 15/09/2025

Lona, gadis asal NTT ini, tengah naik daun di kancah musik lokal. Penampilannya yang memesona dan suara emasnya berhasil menyita perhatian publik. Namun, dalam sebuah acara yang digelar di Ratatotok, dirinya turut terseret dalam kontroversi usai video penampilannya beredar luas dan memperlihatkan aksi saweran hingga ratusan juta rupiah.

Publik sontak geger. Tak sedikit yang mempertanyakan dari mana asal uang tersebut yang dengan mudahnya dilemparkan ke atas kepala Lona di tengah kondisi masyarakat sekitar yang masih bergelut dengan kemiskinan dan harga kebutuhan pokok yang terus melambung tinggi, termasuk harga beras di Sulut yang hingga kini belum stabil.

Dalam video yang viral, terlihat sejumlah pria dan ibu-ibu yang diduga kuat merupakan penguasa tambang ilegal di Ratatotok dengan santai menghamburkan uang pecahan 50/100 Rupiah keatas kepala sang penyanyi. Tak hanya itu, botol-botol bir dan minuman keras terlihat di meja-meja tamu, menambah kuat kesan gaya hidup mewah dan hedonis yang jauh dari empati sosial.

“Di saat anak-anak yatim dan panti asuhan butuh uluran tangan, mereka malah foya-foya dengan uang hasil tambang ilegal. Ini sangat melukai hati rakyat,” ungkap salah satu warga dalam komentar media sosial.
Berbagai komentar bernada kecaman pun bermunculan, menyebut aksi tersebut sebagai bentuk kesombongan yang tak pantas dipertontonkan di tengah penderitaan masyarakat.

Kondisi geografis Ratatotok yang datar dan rawan rawan banjir menjadikan daerah ini berpotensi terjadi bencana alam. Aktivitas tambang ilegal yang terus berlangsung tanpa kendali telah menyebabkan kerusakan hutan dan hilangnya fungsi kawasan resapan air. Hal ini berpotensi besar menyebabkan bencana ekologis seperti banjir bandang dan krisis air bersih di masa mendatang.

Seorang pengamat lingkungan yang enggan disebutkan namanya memperingatkan bahwa Ratatotok kini berada dalam status rawan bencana. “Kawasan hutan berubah jadi lahan tambang. Jika dibiarkan, Ratatotok bisa jadi tragedi nasional. Pemerintah harus bertindak sebelum terlambat,” tegasnya.

Di balik aktivitas tambang ilegal yang merajalela, modus para cukong tambang terbilang canggih. Beberapa di antaranya mengklaim memiliki izin resmi, padahal di lapangan justru menggunakan skema tambang rakyat yang dimanipulasi. Ironisnya, alat berat seperti excavator digunakan secara terang-terangan demi memaksimalkan keuntungan.

Lebih memprihatinkan, sebagian dari mereka bahkan mengklaim dilindungi oleh oknum aparat, sehingga razia yang dilakukan tidak membuat mereka gentar. Beberapa alat berat memang pernah disita, namun aktivitas tambang terus berlangsung di lokasi lain yang tersembunyi. Bahwa puluhan alat berat saat ini sudah turun dari lokasi

Akibat tambang emas ilegal yang tidak membayar pajak dan royalti, negara dirugikan hingga triliunan rupiah. Pendapatan yang seharusnya masuk ke kas negara dan menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Minahasa Tenggara nyaris tidak ada. Keuntungan hanya dinikmati segelintir orang, sementara masyarakat sekitar hanya menjadi penonton.

Ironisnya, hasil tambang yang diperoleh digunakan untuk hal-hal konsumtif, seperti membeli kendaraan mewah, menyawer penyanyi, hingga foya-foya di acara hiburan, tanpa kontribusi nyata untuk pembangunan daerah.

Sorotan terhadap Ratatotok kini telah meluas ke tingkat nasional. Masyarakat, aktivis, hingga pengamat lingkungan mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM untuk segera turun tangan. Penegakan hukum harus dilakukan secara menyeluruh dan adil, tanpa pandang bulu, demi menyelamatkan lingkungan dan masa depan generasi berikutnya.

Publik juga menuntut transparansi terhadap izin-izin tambang yang ada serta audit menyeluruh terhadap aktivitas yang mengatasnamakan “tambang rakyat”. Jika dibiarkan, Ratatotok bukan hanya menjadi simbol kegagalan tata kelola sumber daya alam, tapi juga wajah ketidakadilan sosial di tengah negeri yang kaya raya ini. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *