Manado — Tragedi ambruknya kanopi Hall B KONI Manado yang merenggut korban jiwa bukan sekedar peristiwa biasa. Di balik duka yang menyelimuti, publik kini menanti satu hal. Tindakan nyata, cepat, dan tegas dari Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, serta Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sulut, FX Winardi Prabowo.

FOTO: Saat Gubernur dan Dirkrimsus Polda SULUT Meninjau Koni Manado Pasca Gempa 7.6
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada Kamis pagi (3/4/2026) sekitar pukul 06.48 WITA memang menjadi pemicu. Namun, bagi kalangan kritis, penyebab runtuhnya struktur tidak bisa berhenti pada faktor alam semata.
Sekretaris Jurnalis Aktivis Rakyat Indonesia (JARI), Jenry Mandey, secara terbuka mempertanyakan kualitas konstruksi dan sistem pengawasan yang melingkupi bangunan tersebut. Ia menilai, tragedi ini menyimpan potensi persoalan yang lebih dalam.
“Kalau hanya gempa, mengapa harus sampai memakan korban jiwa? Ini harus diurai secara terang. Jangan sampai ada kelalaian atau bahkan dugaan penyimpangan yang ditutup-tutupi,” ujarnya.
Menurutnya, yang lebih mengkhawatirkan adalah indikasi bahwa insiden serupa bukan pertama kali terjadi di lokasi yang sama. Hal ini memunculkan dugaan adanya kegagalan sistemik, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun pengawasan proyek.
“Kalau kejadian ini berulang, itu bukan lagi musibah semata. Itu tanda ada yang salah dan belum pernah dibereskan secara serius,” tegasnya.
Sorotan tajam pun diarahkan kepada aparat penegak hukum. Jenry menekankan bahwa masyarakat tidak lagi membutuhkan sekedar pernyataan normatif, melainkan langkah konkret yang transparan dan berani.
“Ini ujian bagi APH. Apakah berani membuka semuanya? Atau justru membiarkan kasus ini tenggelam seperti banyak kasus sebelumnya?” katanya.
Di sisi lain, peran gubernur juga menjadi sorotan. Publik menilai, kepemimpinan daerah diuji bukan hanya saat kondisi normal, tetapi justru dalam situasi krisis seperti ini.
“Gubernur harus turun langsung, bukan hanya melihat dari laporan di meja. Lakukan audit total terhadap bangunan publik. Jangan tunggu korban berikutnya,” tambah Jenry.
Tragedi ini kembali membuka fakta pahit tentang kerentanan infrastruktur di daerah rawan gempa seperti Sulawesi Utara. Standar bangunan tahan gempa seharusnya menjadi prioritas mutlak, bukan sekadar formalitas di atas kertas.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait penyebab pasti ambruknya kanopi tersebut. Apakah murni dampak gempa, atau ada faktor kelalaian manusia, masih menjadi tanda tanya besar.
Satu hal yang pasti. Publik tidak akan diam. Di tengah duka, ada tuntutan akan keadilan dan transparansi. Dan kini, semua mata tertuju pada langkah berikutnya dari Yulius Selvanus dan FX Winardi Prabowo, apakah akan menjadi titik terang, atau sekedar bab lain dari tragedi yang dilupakan.
Red





