Dosen Fakultas Kedokteran Kritisi Pelantikan Wakil Rektor 4 UNSRAT

Manado – kibarindonesia.com – Pelantikan Dr. Stennie Wala sebagai Wakil Rektor 4 Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) yang membidangi Perencanaan dan Kerja Sama mendapat kritikan dari sejumlah dosen Fakultas Kedokteran.

Mereka merasa terpinggirkan karena tidak ada perwakilan dari Fakultas Kedokteran di jajaran pimpinan universitas.

Salah satu dosen Fakultas Kedokteran yang enggan disebutkan namanya menyatakan kekecewaannya atas keputusan tersebut.

“Kami merasa seperti terbuang. Fakultas Kedokteran adalah salah satu fakultas unggulan di UNSRAT, tetapi dalam struktur kepemimpinan yang baru ini, tidak ada satu pun dari kami yang dipercaya untuk duduk sebagai Wakil Rektor,” ujar mereka.

Menurut para dosen tersebut, Fakultas Kedokteran memiliki banyak akademisi berprestasi yang layak menempati posisi strategis di tingkat universitas.

“Seharusnya ada keseimbangan dalam distribusi jabatan, agar semua fakultas merasa dihargai dan memiliki representasi dalam pengambilan kebijakan,” tambah mereka.

Pelantikan Dr. Stennie Wala sebagai Wakil Rektor 4 dilakukan hari ini, 27 Februari 2025.

Meskipun memiliki pengalaman dan rekam jejak akademik yang baik, keputusan ini tetap menuai kritik dari para dosen FK, yang berharap ada keterwakilan Fakultas Kedokteran di tingkat pimpinan universitas.

Tak sampai disitu para dosen juga menyoroti kondisi infrastruktur dan fasilitas pendidikan di Fakultas Kedokteran.

Menurut mereka, gedung baru tidak kunjung dibangun, fasilitas praktikum masih terbatas, dan rumah sakit yang direncanakan sebagai rumah sakit pendidikan belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Para dosen tersebut menilai Fakultas Kedokteran dianaktirikan bisa dilihat dari gedung tidak ada yang baru.

Fasilitas praktikum minim, gedung rumahsakit yang akan dijadikan rumah sakit pendidikan mangkrak. Tidak ada penyelesaian.

Selain itu, para dosen tersebut juga menyoroti adanya dugaan praktik tidak transparan dalam penerimaan mahasiswa, baik di jenjang S1 maupun Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Sejumlah orang tua mahasiswa mengaku pernah membayar sejumlah uang kepada pihak tertentu untuk memperlancar proses penerimaan.

Para dosen tersebut juga mempertanyakan apakah rektor sengaja membuang FK?

“Padahal UKT paling besar ada di fakultas kedokteran yang memberi banyak, pemasukan kepada universitas.

Kedokteran dianaktirikan bisa dilihat dari gedung tidak ada yang baru.

Fasilitas praktikum minim, gedung rumahsakit yang akan dijadikan rumah sakit pendidikan mangkrak dengan tidak ada penyelesaian.

Sementara itu adanya dugaan pimpinan universitas menjadikan calon mahasiswa yang akan kuliah sebagai sumber ATM atau pungli.

Beberapa orangtua yang mengakui bahwa membayar sejumlah uang kepada orang suruhan baik s1 maupun ppds.

Demikian juga kasus yang bergulir terkait suap ppds yang mana kurirnya sudah ditahan tapi rektor menyangkal dan masih lenggang tenang,” Tanya para dosen terebut.

Saat awak media mengonfirmasi terkait berita ini juru bicara Unsrat Mner Philip dan Mner Max Rembang belum memberikan tanggapannya hingga berita ini diterbitkan.

Adapun media ini masih menunggu respon resmi dari pihak terkait untuk memberikan klarifikasi dalam berita lanjutan, terimakasih.
28/02/2025
( *** Tim )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *