“Hapsa Menuai Hosa” Catatan Stefanus Sarayar

Sulut – kibarindonesia.com – Kemajuan ilmu kedokteran di Indonesia yang semakin maju ditambah pelayanan kesehatan yang baik dan berkualitas bagi warga negara,
Serta di bantu program BPJS, penyakit penyebab kematian dapat dicegah sedini mungkin dan diatasi semaksimal mungkin. Hal ini tentunya berdampak positif menurunnya angka kematian.

Merujuk pada data Bank Dunia, angka kelahiran per perempuan Indonesia memang menunjukkan tren penurunan. Pada 1973 angka kelahiran per perempuan Indonesia berada di angka 5,22 kemudian angkanya turun menjadi 2,15 pada 2022.

Dengan menurunnya angka kematian dan berkurangnya angka kelahiran. Indonesia saat ini dihadapkan pada “fase ageing population”,
“Proporsi penduduk lanjut usia (lansia) semakin meningkat. Menurut UU No 13 tahun 1998 2.Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun (enam puluh) tahun keatas

Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia pada 2023, hampir 12 persen atau sekitar 29 juta penduduk Indonesia masuk kategori lansia.

Kebijakan pemerintah lewat Kementerian Kesehatan dalam pelayanan kesehatan lanjut usia bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia yang berkualitas melalui penyediaan sarana pelayanan kesehatan yang ramah bagi lanjut usia untuk mencapai lanjut usia yang berdayaguna bagi keluarga dan masyarakat.

Akhir akhir ini terkesan disalahgunakan, lansia potensial yang seyogianya diberikan bekal seperti apa yang dilakukan di daerah lain di Indonesia, sebut saja “Persatuan Lansia Aktif Peduli Indonesia” (LANTIP) yang berkembang

Perkumpulan lansia ini telah banyak berperan baik dari segi ekonomi kreatif maupun penyediaan Tenaga kerja siap pakai termasuk ‘home industri’
dan penyediaan layanan kesehatan.

Contohnya LANTIP di Jatim lebih khususnya di kota Malang, para lansia potensial diberikan bekal seperti cara membuat sabun, dan lansia disana diberikan kesempatan untuk “mengajar” dan bekerja untuk menambah penghasilan di hari tua dan lain sebagainya disesuaikan dengan umur dan kesehatan lansia.

Bagaimana dengan lansia GMIM…?

Bercermin dan kenyataan, program program lansia terkesan seremonial. Kegiatan kegiatan lansia berujung pulang kelelahan. Disamping kelelahan para lansia yang kurang beruntung menderita kekurangan. Uang pensiun atau uang makan bulannan yang dikasih anak terkuras.

Tanpa mereka sadari hak politik mereka sudah di ijon dengan beras 5 kilogram.

Lansia yang seharusnya dihormati dan disegani, berubah kepanasan kelelahan dan tak jarang kelaparan. Mereka di kenyang kan dengan pidato politik berkedok kegiatan gereja. Pulang kelelahan dan tak jarang harus kedokteran akibatnya Hapsa Menuai Hosa
05/08/2024
( Redaksi )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *