Minahasa Tenggara – kibarindonesia.com –
SPBU milik RK yang berlokasi di Tombatu pada siang hari selalu tutup dan hanya dibuka malam sampe pagi. Akibatnya SPBU tersebut sering disorot karena diduga sering melayani mafia solar dan mementingkan pengisian di gelon
Seperti yang terjadi hari ini, SPBU Tombatu kembali viral dimedia sosial. Melalui akun RKS yang diposting di grup Kerukunan Kawanua Minahasa Tenggara ( KKMT ) beliau mengungkap kemarahannya karena operator SPBU Tombatu lebih mementingkan pengisian di gelon dari pada mobil yang sudah antri lama karena mendapat bayaran tap Rp.8200 Per gelon
Akibat viralnya postingan tersebut, ini pun langsung menuai tanggapan luas, dengan komentar warga, “mereka lagi menunggu
Mobil yang sudah di modifikasi pickupnya untuk di salurkan di tempat penampungan lain alis pindah tempat, subsidikan bukannya untuk rakyat yang menengah kebawah yah”
“Dpa sayang pertalite 1 oto sampe 20 gelon. Kong di saat motor oto, yang mo ba isi for pribadi malah nda dpa. bilang alasan abis, nintau jga Pi Kuti tu saklar.. Hebat bisa terbang gelon semakin di depan,drom semakin kebalakang.Jaga maso kurang 8000 Liter mar jaga berbage dengan tu for yang tengki motor dengan oto.. serta itu beli di pingir jalan so ada yang 13 14.000 Rp.” Tulis masyarakat dalam kolom komentar memakai bahasa Manado
Mirisnya, kabar soal dugaan penimbunan BBM ini mencuat beberapa Bulan lalu setelah Komisi III DPRD Sulawesi Utara menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kapolda Sulut, yang salah satu agendanya membahas soal penampungan dan distribusi ilegal BBM.
Ironisnya, justru di tengah langkah pemerintah dan kepolisian untuk menindak mafia solar dan BBM ilegal, aktivitas di SPBU milik R K di Tombatu selalu menjadi sorotan.
Masyarakat mempertanyakan tindakan tegas terhadap kasus ini. Banyak yang menilai, kasus ini memperlihatkan lemahnya pengawasan dan ketidakseriusan pihak berwenang dalam menindak pelaku penimbunan BBM ilegal karena dibukanya tambang ilegal di Ratatotok. Bahkan kabar terbaru lokasi tambang nibong sempat terjadi baku tembak dan diduga ada korban
Tudingan ini memicu keprihatinan, mengingat dampaknya terhadap ketersediaan BBM bagi masyarakat Mitra. Karena BBM bersubsidi sering dijual kembali ke tambang emas Ratatotok dengan harga industri
Aktivitas penimbunan BBM jenis Solar Bersubsidi yang marak di Mitra mencerminkan ironisnya kepentingan pribadi dengan mengorbankan kesejahteraan rakyat.
Publik pun berharap ada tindakan tegas dari aparat kepolisian untuk mengusut tuntas masalah mafia solar, serta tambang emas tampa izin di Ratatotok yang saat ini dibuka bebas
08/12/2024
( Redaksi )





