Sulawesi Utara – kibarindonesia.com – Jauh sebelum Elly Engelbert Lasut (E2L) ditetapkan sebagai calon gubernur Sulawesi Utara 2024-2029 dirinya sering mendapat serangan dari Buzzer dan Influencer.
Serangan yang ditujukan kepada E2L, bak bom Israel yang membombardir Palestina.
Serangan bertubi-tubi dari buzzer dan influencer yang ditujukan pada E2L, menurut pengamat ‘SosMas’ Efraim Lengkong tidak menyebabkan kehancuran di kubuh E2L sebagaimana yang yang terjadi di Gaza. Bahkan sebaliknya serangan tersebut menjadi ‘imun’ bagi E2L.
“Indonesia menganut budaya malu, generasi millenial dan Z merupakan warga digital yang berdaulat, membangun bangsa ke arah yang lebih positif, di bidang pendidikan, penguatan ekonomi dan ilmu kedokteran”.
“Keterlibatan generasi Z untuk berperan aktif dalam menangkal hoaks semakin besar. Pengaruh generasi Z pada orang tua besar. Saat ini generasi muda dan masyarakat umum semakin sadar tentang pentingnya berpartisipasi politik tanpa unsur menjatuhkan lawan politik”, kata Lengkong.
Dirinya mencontohkan saat pilpres 2024 paslon 02 Prabowo-Gibran dibully habis habisan, apa yang terjadi…?
Keseringan menggunakan ‘black campain’, E2L akan semakin kuat di dukung masyarakat.
Sambil ber ‘gurau’ Efraim Lengkong yang juga ketua KP Lansia di salah satu wilayah Manado mengatakan, jujur saja pada awalnya saya kurang simpati sama E2L tapi lama kelamaan saya simpati. “Orangnya ‘cool’ mengakui kesalahan dan kekurangannya tidak membalas ‘cemoohan dan hinaan dari orang-orang yang mendiskreditkan dirinya.
“Wah ini bahaya bisa saja kemenangan Prabowo-Gibran di Level Nasional akan terjadi pada pasangan E2L-HJP di level daerah”.
Ingat, Amsal 8:13, Amsal 11:2, dan Amsal 16:5 jelas tertulis
“Tuhan membenci orang yang sombong dan merasa paling benar”.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik di antara kalian”.
Lengkong pada closing statement mengatakan bahwa di Sulawesi Utara (Orang Manado) tidak mengenal apa yang disebut ‘Influencer’ dalam arti orang yang berpengaruh besar terhadap orang lain.
Yang berkembang saat ini sebutan Manado yang dipelintir menjadi Mana_doi, dalam pengertian “So Kase Doi Dorang Nda Pilih”
Pemaknaan dari apa yang saya sebutkan di atas dapat dimaknai “berikan kesempatan pemilih di Sulawesi Utara untuk menentukan pilihan mereka berdasarkan logika dan hati nurani mereka.
Agar pesta demokraksi di ‘tanah rayuan kelapa’ menjadi contoh kematangan demokrasi bagi daerah-daerah lain yang ada di Indonesia, imbuhnya.
02/09/2024
(Stefanus)





