Manado – KibarIndonesia.com –
Tragedi kebakaran yang menimpa Kapal Barcelona V.A milik PT Surya Pasific Indonesia (SPI) tidak hanya merenggut empat nyawa, tetapi juga membuka tabir dugaan kelalaian fatal dalam sistem keselamatan kapal. Di tengah duka mendalam keluarga korban, publik kini menyoroti dua hal utama: tidak hadirnya perangkat keselamatan vital di atas kapal, dan absennya Direktur SPI, V.A. Ko Sim, yang hingga saat ini belum memberikan pernyataan maupun muncul di hadapan publik.
Salah satu temuan paling mencolok dari insiden ini adalah dugaan ketiadaan liferaft, atau rakit penolong, yang diduga hanya pajangan atau formalitas. Liferaft yang seharusnya menjadi bagian wajib dari perlengkapan keselamatan kapal penumpang merupakan rakit darurat berbentuk kapsul yang saat ditarik tuasnya akan mengembang di air dan berfungsi sebagai penyelamat saat kondisi darurat.
Namun saat kebakaran terjadi, saksi mata menyebutkan tidak terlihat liferaft maupun tangga darurat. Para penumpang terpaksa melompat dari atas kapal yang tinggi demi menyelamatkan diri. Kejadian ini memperlihatkan minimnya kesiapan dan kepatuhan terhadap standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang seharusnya dijalankan oleh pihak pengelola kapal.
Peran seorang nahkoda dalam situasi darurat sangat krusial. Ia bertanggung jawab membunyikan alarm kebakaran, menyampaikan informasi kepada penumpang, melapor ke otoritas pelabuhan, serta memimpin upaya pemadaman dan evakuasi.
Namun, dalam kasus KM Barcelona V.A, publik mempertanyakan apakah seluruh prosedur tersebut dijalankan. Bahkan, kuat dugaan bahwa latihan keselamatan (drill) yang wajib dilakukan setiap minggu atau bulan tidak pernah dilakukan. Akibatnya, saat kebakaran terjadi, awak kapal terlihat panik dan tidak mampu menjalankan prosedur penyelamatan dengan baik.
Tragedi ini memicu desakan luas dari masyarakat agar APH melakukan investigasi menyeluruh. Berikut beberapa poin penting yang dinilai perlu diperiksa:
- Masa berlaku (expired) dan penempatan liferaft, apakah tersedia dan mudah diakses.
- Log book kapal, untuk melihat apakah latihan keselamatan rutin benar-benar dilakukan, lengkap dengan bukti dokumentasi seperti video.
- Kelengkapan alat keselamatan lainnya, termasuk pelampung, alat pemadam kebakaran, dan jalur evakuasi.
- Dokumen resmi kapal, seperti izin berlayar dan hasil inspeksi teknis.
- Kualifikasi dan kesiapan awak kapal, tidak hanya dari sisi ijazah atau sertifikat, tetapi juga pemeriksaan kesehatan dan pemahaman terhadap peran masing-masing dalam kondisi darurat.
Poin kedua dan kelima dinilai paling krusial karena menyangkut kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi bencana di laut.
Kritik tajam juga diarahkan kepada Direktur SPI, V.A. Ko Sim, yang belum terlihat hadir di lokasi kejadian atau menemui keluarga korban. Ketidakhadirannya dalam masa krisis seperti ini dinilai publik sebagai bentuk minimnya empati dan tanggung jawab moral dari pihak perusahaan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Surya Pasific Indonesia belum memberikan keterangan resmi, meskipun awak media telah berulang kali berupaya melakukan konfirmasi kepada Ko Sim
Kebakaran KM Barcelona V.A menjadi pengingat keras bahwa keselamatan pelayaran bukan hanya soal kemewahan fasilitas, tetapi soal komitmen terhadap standar keselamatan dan nyawa manusia. Diperlukan langkah tegas dari otoritas untuk memastikan tragedi serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari. Senin 21/07/2025
( Stefanus)





