Kinerja Aburadul Kepala Lingkungan 2 Banjer Disorot, Walikota Manado Diminta Turun Tangan

MANADO — kibarindonesia.com — Kinerja Ketua Lingkungan (Ketling) Banjer Lingkungan 2, Kecamatan Tikala, Kota Manado, menuai sorotan dari sejumlah warga. Kekecewaan tersebut mencuat setelah warga menilai ketidak hadiran Ketua Lingkungan berinisial RS alias Cobe dalam sejumlah kegiatan positif yang dilakukan masyarakat di wilayah LORKUB (Lorong Kubur). Jumat 28/08/2026

Sorotan warga bukan semata-mata soal kehadiran secara fisik, melainkan menyangkut fungsi, tanggung jawab, kepemimpinan, serta kepedulian seorang Ketua Lingkungan terhadap dinamika masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam struktur pemerintahan di tingkat lingkungan, seorang Ketua Lingkungan idealnya tidak sekadar menjalankan fungsi administratif. Ia dituntut mampu menjadi penggerak masyarakat, fasilitator, koordinator, sekaligus teladan ketika warga menggelar kegiatan yang membawa manfaat bagi lingkungan.

Terlebih ketika masyarakat secara swadaya bergerak memperbaiki fasilitas umum dan menghidupkan semangat kebersamaan.
Jembatan Diperbaiki Swadaya, Ketling Dipertanyakan

Kekecewaan warga LORKUB salah satunya dipicu oleh kegiatan perbaikan jembatan yang berada tepat di depan gapura LORKUB.
Perbaikan jembatan tersebut disebut berlangsung selama kurang lebih tiga minggu dan dilakukan melalui swadaya masyarakat.

Warga secara bersama-sama bergotong royong memperbaiki fasilitas yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Kegiatan tersebut juga disebut diketahui secara luas karena sejumlah warga mengunggah proses maupun aktivitas mereka melalui media sosial Facebook.

Namun, menurut keterangan warga, Ketua Lingkungan 2 RS alias Cobe tidak terlihat hadir maupun memberikan dukungan secara langsung selama kegiatan tersebut berlangsung.

Bagi warga, kondisi itu menimbulkan pertanyaan serius: di mana peran seorang Ketua Lingkungan ketika masyarakatnya sedang menunjukkan semangat gotong royong dan membangun fasilitas lingkungan secara mandiri?

Pertanyaan tersebut semakin mengemuka karena kegiatan itu bukanlah aktivitas negatif atau kepentingan pribadi segelintir orang. Sebaliknya, warga sedang melakukan sesuatu yang secara langsung memberikan manfaat bagi lingkungan.

Semarak HUT RI, Warga Kembali Kecewa
Kekecewaan warga kembali muncul ketika masyarakat LORKUB menggelar berbagai perlombaan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 14 hingga 17 Agustus 2026.

Berbagai kegiatan tersebut digelar dengan melibatkan masyarakat dan bahkan mengundang warga dari lingkungan sekitar. Semangat kebersamaan dan partisipasi masyarakat terlihat dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Namun, berdasarkan keterangan warga, Ketua Lingkungan 2 kembali tidak terlihat hadir dalam kegiatan yang berlangsung di wilayahnya tersebut.

Bagi masyarakat, persoalannya bukan sekadar apakah seorang Ketling wajib hadir di setiap kegiatan. Yang dipersoalkan adalah sense of responsibility dan kepedulian terhadap aktivitas positif yang dilakukan warga di wilayah kepemimpinannya.

Sebab, seorang pemimpin di tingkat lingkungan semestinya mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan dukungan, membangun komunikasi dengan warga, serta menunjukkan bahwa pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat.

Sejumlah warga menilai paradigma kepemimpinan di tingkat lingkungan harus dikembalikan kepada semangat pelayanan publik.

Ketua Lingkungan semestinya menjadi figur yang mampu menggerakkan warga, membangun komunikasi, memfasilitasi kebutuhan masyarakat, serta memberikan apresiasi terhadap setiap kegiatan yang berdampak positif.

Ketika masyarakat mampu bergerak secara swadaya selama berminggu-minggu untuk memperbaiki fasilitas umum, kemudian menggelar kegiatan sosial dan perayaan kemerdekaan dengan penuh kebersamaan, pemerintah di tingkat lingkungan seharusnya tidak boleh kehilangan momentum untuk hadir.

Kehadiran pemimpin bukan hanya soal berdiri di tengah kerumunan. Kehadiran adalah bentuk pengakuan bahwa kerja keras masyarakat dihargai dan diperhatikan.

Karena itu, warga mempertanyakan apakah fungsi pembinaan, koordinasi, dan pelayanan masyarakat telah berjalan sebagaimana mestinya di Banjer Lingkungan 2.

Kekecewaan tersebut disampaikan Samsuri Masloman, yang merupakan salah satu tetua sekaligus penasihat dalam kegiatan masyarakat LORKUB.

Menurut Samsuri, warga merasa kecewa karena Ketua Lingkungan dinilai tidak menunjukkan dukungan terhadap kegiatan positif yang dilakukan masyarakat.

“Saya sebagai salah satu tetua di LORKUB dan mewakili warga LORKUB sangat kecewa dengan kinerja Ketua Lingkungan Banjer Lingkungan 2. Seharusnya sebagai Ketling, beliau memberikan dukungan dan support apabila warganya sedang melakukan kegiatan yang positif. Kami warga LORKUB meminta Wali Kota Manado meninjau dan mengevaluasi kembali kinerja Ketling Lingkungan 2,” ujar Samsuri.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi bentuk aspirasi warga agar Pemerintah Kota Manado tidak menutup mata terhadap persoalan pelayanan publik di tingkat paling bawah.

Warga berharap evaluasi tidak dimaknai sebagai upaya untuk menjatuhkan seseorang, melainkan sebagai mekanisme pemerintahan untuk memastikan setiap pejabat atau perangkat yang diberi amanah benar-benar menjalankan tugasnya secara optimal.

Jangan Sampai Pemerintah Hadir di Atas Kertas, Tetapi Absen di Tengah Masyarakat
Kritik warga LORKUB pada akhirnya bermuara pada satu persoalan fundamental: sejauh mana seorang Ketua Lingkungan menjalankan mandat pelayanan masyarakat?
Jabatan publik, sekecil apa pun levelnya, tetap merupakan amanah. Ketika warga membutuhkan fasilitasi, koordinasi, dukungan, dan kepemimpinan, pejabat yang diberi mandat seharusnya mampu menunjukkan respons.

Masyarakat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin pemimpin di lingkungannya peduli, komunikatif, hadir ketika dibutuhkan, dan mampu mengapresiasi kerja positif masyarakat.
Karena itu, warga LORKUB meminta Pemerintah Kota Manado, khususnya Wali Kota Manado, untuk mengevaluasi secara objektif kinerja Ketua Lingkungan 2 Banjer, termasuk mendengar langsung aspirasi masyarakat dan melihat kondisi di lapangan.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya terlihat dari laporan administratif, tetapi juga dari seberapa jauh masyarakat merasakan kehadiran dan manfaat dari kepemimpinannya. (Tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *